CARA MEMBUAT-MERACIK E LIQUID TAMPA RESEP

tutorial cara buat e liquid rokok elektronik

Cara membuat-meracik e liquid tampa resep, e liquid cairan untuk rokok elektronik – vape. Hal tersebut dapat di lakukan dengan mudah apabila kita mengetaui dasar – dasar karakter dan sifat dasar bahan pembuatan e liquid dan paham rumus – rumus dasar pembuatan e liquid. Untuk memahami hal tersebut, langkah dasar adalah memahami tujuan pembuatan e liquid terlebih dahulu.

E liquid pada awal tujuan pembuatannya bertujuan untuk menghantarkan nicotine agar dapat diserap tubuh melalui saluran pernapasan, sebagai pengganti rokok konvensional. Kemudian berkembang pemikiran pembuatan e liquid tampa nicotine dengan dasar pertimbangan kesehatan dan tujuan untuk terapi menghilangkan kebiasaan merokok
atau ketergantungan nicotine.

Langkah pertama yang kita tetapkan adalah membuat e liquid dengan nicotine atau TAMPA nicotine. Sampai disini kita catat terlebih dahulu, nicotine.
Mengapa ? pada tahap selanjutanya ( tingkat advantage ), kita baru bahas dimana proses mixing pencampuran nicotine dilakukan.
Prinsipnya pencapuran nicotine, dapat dilakukan pada tahap mana saja bisa atau boleh dilalukan kapan saja.
Apakah hasil sama ? tentu saja hasilnya akan berbeda. Hal ini sifatnya umum dalam reaksi kimia.

Rumus I 

( A + B ) + C ≠ ( A + C ) + B ≠ ( C + B ) + A

Rumus I diatas berlaku tidak hanya dalam hal pencapuran nicotine, juga berlaku untuk bahan – bahan lainnya.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, dalam tujuan pembuatan e liquid, dalam proses selanjutnya kita anggap saja kita membuat e liquid tampa nicotine ( NON nicotine ) untuk mempermudah proses pemahaman. Bahan utama e liquid sebagai medium penghantaran di maksud, yang terbaik adalah propylene glykol dan atau Vegetable glycerine ( glyserine dari bahan nabati ).

Rumus II

⇔ E liquid = PG
⇔ E liquid = VG
⇔ E liquid = PG + VG

PG = Propylene Glykol PG )
VG = Vegetatable glycerine ( VG )

Jadi dari salah satu atau kedua bahan tersebut di atas kita sudah dapat dikatakan meracik e liquid. Mana yang lebih baik ? dua duanya masing – masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Banyak pemahanan yang beredar dalam dunia diy e liquid yang menyebutkan bahwa, PG untuk rasa dan VG untuk asap. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Perlu pemahaman lebih agar tidak tersesat dengan aksioma tersebut.
Banyak literatur yang beredar untuk pemahaman lebih lanjut.

Dalam dunia diy e liquid kedua bahan tersebut memiiki fungsi utama sama, sebagai penghasil asap dan pengikat rasa. Sebagai penghasil asap VG lebih unggul, sebagai pengikat rasa PG lebuh unggul. VG memiliki kekentalan lebih tinggi dan rasa manis yang lebih baik.

Jika menggunakan mixing kedua bahan tersebut diatas berapa perbandingan ideal ?
Sulit untuk menentukan, tergantung maksud ideal yang bagaimana yang di maksud.
Jika di hitung secara empiris disilangkan dengan flash point, boiling point dll, akan menghasilkan perbandingan angka desimal tak terputus. Tergantung point mana yang lebih kita tekankan.Bila di buat sederhana mungkin angka 7:3 bisa jadi acuan. Dan angka acuan diatas bisa bergeser sesuai rencana cita rasa yang kita rencanakan. tiap chemicals Chef atau brewer punya strategi masing – masing.
Mengapa demikian ? kedua bahan di atas komposisi ideal nya, akan tidak optimal lagi ( berubah ) untuk tahap selanjutnya.
Sampai disini bisa dikatakan kita selesai samapi tahap awal flavouring awal flavouring dasar, untuk landasan ke tahap selanjutnta.

Rumus III

⇔ E liquid = PG + Perisa
⇔ E liquid = VG + Perisa
⇔ E liquid = PG + VG + perisa

atau bisa dengan penggabungan mixing rasa

Rumus IV

⇔ E liquid = PG + Perisa A + Perisa B
⇔ E liquid = VG + Perisa A + Perisa B
⇔ E liquid = PG + VG + perisa A + Perisa B

Perisa yang di maksud di sini adalah bahan pemberi rasa dan aroma, di pasaran disebut dengan banyak istilah seperti esen, essen, essence, flavour dan flavour.
Walaupun dalam pengertian sebenarnya ada sedikit perbedaan pengertian sesungguh nya dari beberapa istilah istilah tersebut. Yang menjadi permasalahan utama mulai muncul disini. Setiap produsen membuat perisa dengan komposisi masing – masing, dengan strategi masing masing juga. Dan itu menjadi rahasia dapur masing-masing. Pada umunya terdiri dari bahan utama dan pelarut.
Jadi komposisi ideal komposisi PG + VG tadi akan berubah pada tahap ini. Langkah sederhana dan praktis kurangi komposis PG anda sebanding dengan jumlah perisa yg di gunakan.

Sampai di tahap ini kita sudah sampai pada tahap kedua dan ketiga secara bersamaan, karena pada umumnya perisa e liquid yang beredar sudah menyiapakan tahapan ini, yakni rasa dasar dan aromatik ( top flavour ). Tahap kedua secara teoritis adalah penyiapkan rasa dasar ( manis, asam, pahit, asin ). Tahap ketiga menyangkut aromatik.

Selanjutnya kita sampai pada tahap penyempurnaan ( tahap 4 ), disini sifatnya untuk pembenahan hal – hal yang sebagai berikut

– hal ” bersifat buruk “, misal hasil terasa terlalu panas
– kurang sesuai, misal kan kurang manis
– atau hal yang bersifat mengganggu. misalkan aroma tidak sedap.
– Penyempurnaan rasa, untuk tujuan tertentu. misalkan menguatkan rasa tertentu
– dan lainnya yang bersifat perbaikan – penyempurnaan

Rumus V

⇔ ( A ) E liquid = PG + Perisa A + Perisa B + taste modifier
⇔ ( B ) E liquid = VG + Perisa A + Perisa B + taste modifier
⇔ ( C ) E liquid = PG + VG + perisa A + Perisa B + taste modifier

Sampai pada tahap ini peranan bahan modifikasi rasa ( taste modifier ), ambil peranan penting. Misalkan :
Modifikasi Rasa Manis
Modifikasi Rasa asam / modifikasi rasa masam
Modifikasi Rasa dingin
Modifikasi Rasa gurih – asin

Pemilihan bahan taste modifier sangat menentukan pada tahapan ini. Pemilihan bahan yang ideal adalah bahan yang paling sesuai dengan karakteristik yang kita pilih pada tahap kedua dan ketiga.
Kita ambil contoh misalkan modifikasi rasa asam, jika yang kita gunakan pada tahap kedua dan tiga adalah perisa jenis jeruk, kurang ideal jika menggunakan malic acid, akan lebih sesuai misalkan kita menggunakan rutace sour.

Tahap kelima, adalah tahap finishing touch, samapai pada tahap ini mungkin yang membedakan antara chemicals Chef atau brewer dengan lainnya. Beda koki beda rasa.

Rumus VI

⇔ E liquid = PG + Perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer
⇔ E liquid = VG + Perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer
⇔ E liquid = PG + VG + perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer

Kembali lagi pada pemilihan bahan, keselarasan dan keharmonisan menjadi rahasianya pada tahap ini. Contoh misalkan pada tahap kedua dan tahap ke tiga, kita memilih menggunkan perisa dari jenis buah yang sifatnya “segar”. Jika kita menggunakan ethyl maltol dengan tujuan untuk penguat rasa, agak kurang ideal. Karena jika kita sedikit saja melebihi “titik puncak”, akan kurang ideal, karena ethyl maltol memiliki efek manis gula bakar ( caramel ) yang cenderung creamy. Penguat rasa lain mungkin bisa jadi pertimbangan misalkan Taste Up.
Hampir semua penguat rasa memiliki fungsi sekuder atau dalam bahasa sederhana efek samping. misal ethyl maltol seperti di atas selain penguat rasa ethyl maltol menimbulkan rasa manis gula bakar ( caramel ).

Rumus VII

⇔ E liquid = PG + Perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer + faktor X
⇔ E liquid = VG + Perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer + faktor X
⇔ E liquid = PG + VG + perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer + faktor X

Rumus VIII

⇔ E liquid = PG + Perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer + x faktor X + faktor Y
⇔ E liquid = VG + Perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer + x faktor X + faktor Y
⇔ E liquid = PG + VG + perisa A + Perisa B + taste modifier + flavour enhancer + x faktor X + faktor Y

faktor y = faktor lain – lain misalkan keharmonisan bahan, cara mixing, dan lain lain

selain hal diatas, pada tahap ini kita juga mengatur ” kelompak rasa kelima ” yang tidak masuk dalam kelompok rasa dasar ( faktor X ). Rasa dalam kelompok ini, kita ambil contoh misalkan rasa pahit pada emping ( jenis krupuk ), disebut pahit ya enggak disebut enggak juga terasa agak pahit. Contoh lain misalkan rasa gurih pada kacang, di bilang asin ya gak asin di bilang enggak asin ya terasa sedikit asin tapi beda dengan asin garam.

Sebenarnya tahapan tahapan di atas tidak harus berurtan seperti ini, bisa di bolak – balik sesuai karakteristik bahan yang digunakan. Design rasa yang di inginkan dan lain lain. Apalagi pada tahap kedua dan ketiga kita menggunakan bahan dasar bukan perisa jadi akan lebih fleksibel.

Kembali Lagi ke Masalah nicotine, banyak nicotine beredar di pasaran dengan merk berbeda, dan dengan tehnik pembuatan yang berbeda pula. Ada juga yang membuat nikotin dengan cara yang kurang layak, hal ini hanya sekilas berdasarkan pengamatan penulis. Walau tidak melihat langsung bahan dan tehnik pembuatannya, setidaknya bisa di nilai atau di analisa dari hasilnya. Nicotine dari hasil penyulingan alternatif terbaik, bukan nicotine dari hasil pemerkosaan bahan kimia. Jika memang terpaksa menggunakan nicotine hasil pemerkosaan, sebaiknya mixing dilakukan pada tahap awal.

Apabila kita sudah dapat memahami hal tersebut di atas, siapapun pasti dapat membuat e liquid tampa resep. Tinggal bayangkan rasa yang anda inginkan,,, Make it !

selamat mencoba….

3as – redin.id

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *